Ini hanyalah susdut pandang diriku mengenai kontroversi antara Indonesia dan Malaysia. Terlalu lama kita telah menjalin hubungan dengan Malaysia, namun, beberapa kali juga hubungan itu menjadil hal yang membuat sebuah cara untuk saling menjatuhkan. Dimulai dari konflik ambalat beberapa tahun yang lalu, kemudian pengakuan kebudayaan Indonesia sebagai milik Malaysia, dan sekarang kembali terjadi konflik atas wilayah maritim. Sekarang banyak sekali masyarakat yang mengutarakan untuk ganyang Malaysia melihat apa yang telah meraka perbuat kepada bangsa kita. Memang Indonesia terlalu baik dan kurang tegas, namun tadi malam, Rabu, 1 September 2010, Presiden mengutakan pidato yang berisi agar kita melakukan jala damai terlebih dahulu daripada menggunakn jalan kekerasan untuk menghadapi Malaysia. Mungkin kita bias terus ebrtahan terhadap apa yang telah dilakukan kepada bangsa kita. Namun sebenarnya “apakah mereka belum puas terhadap apa yang mereka lakukan kepada kita?”. Jika menurut diriku kita lenih baik untuk melakukan jalan diplomasi terhadap Malaysia agar tidak terjadi pertumpahan darah yang sia sia. Jika hal itu berujung pada jalan buntuk terpaksa, mau tidak mau kita harus melawan mereka dengan jalan kekerasan atau perang. Tetapi, berpikirlah lebih logis lagi, untuk apa kita berperang ? kita dan Malaysia kan satu rumpun dan satu nenek moyang mengapa harus berperang ?. Perang hanyalah akan membuahkan kesengsaraan dan kehancuran belaka.Bukankah kita manusia yang berperi kemanusiaan yang harus saling memaafkan dah kita harus menghargai satu sama lain dan bukan untuk saling angkat senjata dan berperang. Kita bangsa Indonesia memang harus memperjuangkan hak kita sebagai bangsa Indonesia menjaga keutuhan Negara Indonesia, tetapi Kalian Malaysia janganlah kalian merebut hak kami bangsa Indonesia yaitu kebudayaan, wilayah dan apa yang sudah menjadi milik kami Bangsa Indonesia.

Inugami

Posted: 04/07/2010 in myht

Dalam mitologi Jepang, merupakan inugami 犬 (神?, Lit. “Anjing dewa”) adalah jenis shikigami (式 神?), Mirip dengan semangat akrab, menyerupai, dan biasanya berasal dari, anjing, dan yang paling sering melakukan balas dendam atau bertindak sebagai wali atas nama-inugami mochi, atau “pemilik inugami”. Inugami sangat kuat dan mampu mandiri yang ada, serta mengaktifkan “mereka pemilik” dan bahkan memiliki manusia.

Asal

Seperti dalam kebanyakan budaya, anjing di Jepang dipandang sebagai suatu bentuk, berani, dan gesit pendamping, yang ganas terhadap musuh-musuh tuannya itu. Dalam cerita rakyat Jepang, anjing sendiri dianggap sebagai makhluk ajaib; menyatakan legenda yang anjing sekali bisa bicara, tapi kehilangan kemampuan. Ainu masyarakat adat dari Hokkaido mempertimbangkan anjing hewan, lihai berbahaya dan agak manusia.

Kepercayaan umumnya adalah bahwa sebuah inugami diciptakan oleh mengubur anjing sampai ke leher dan menempatkan makanan di sekitarnya, yang tidak dapat mencapai. Butuh hari untuk anjing mati, dan selama master kali ini anjing itu akan mengatakan bahwa rasa sakit adalah apa-apa dibandingkan sendiri. Ketika anjing itu mati, itu akan menjadi sebuah inugami; sejak sekarat keinginannya akan makan, makanan ditempatkan di sekitar mayat itu akan bertindak sebagai kurban yg mendamaikan, dan dengan demikian membuat semangat taat.

Sebuah legenda yang lebih spesifik menyatakan bahwa seorang perempuan tua yang menginginkan balas dendam melawan musuh anjing berharga dimakamkan di tanah dengan hanya kepalanya mencuat, dan berkata “Jika Anda memiliki jiwa, lakukan akan saya dan saya akan menyembah anda sebagai dewa. ” Dia kemudian menggergaji kepala anjing off dengan bambu yang melihat, melepaskan roh anjing sebagai sebuah inugami. Roh itu melakukan seperti yang dia mau, tapi sebagai imbalan atas kematian menyakitkan, perusahaan itu menghantui wanita tua itu.

Di Kepulauan Oki, inugami mengambil pada fungsi yang kitsune tersebut (rubah) berlaku di daerah lain di Jepang. Hal ini diyakini bahwa inugami-mochi akan diberkati dengan keberuntungan besar dan sukses, dan bahwa nikmat yang diberikan oleh mereka akan dikembalikan dengan bunga. Namun, dalam bursa-inugami mochi yang dihindari oleh orang lain, dan merasa sulit untuk menikah, mereka juga harus berhati-hati untuk tidak menyinggung inugami mereka karena mereka menerima murka, sebagai kitsune tidak seperti itu, sebuah inugami tidak hanya mengikuti nya keinginan master, tetapi juga bertindak atas dorongan sendiri.

Banyak desa-desa kecil di Jepang yang dianggap memiliki minimal satu wanita tua dengan kekuatan-inugami mochi.

Manusia memiliki

tubuh asli inugami itu tetap berada di belakang ketika daun untuk mengikuti master yang ingin; mayat terkubur perlahan layu dan membusuk, dan jika kembali inugami setelah tubuh tidak lagi dihuni, mungkin mengendalikan tubuh tuannya, membuatnya bahkan lebih kuat . Kepemilikan oleh inugami adalah kata untuk menyembuhkan penyakit, atau kesehatan yang buruk, namun juga memberikan hasil dalam berperilaku memiliki seperti anjing.

Nue

Posted: 04/07/2010 in myht

NUE (鵺) adalah makhluk legendaris yang ditemukan dalam cerita rakyat Jepang. Hal ini digambarkan memiliki kepala monyet, tubuh anjing rakun, kaki harimau, dan ular sebagai ekor. Menurut legenda, NUE dapat berubah menjadi awan hitam dan terbang. Karena penampilannya, kadang-kadang disebut sebagai kutipan [chimera Jepang diperlukan]. NUE seharusnya pembawa malapetaka dan penyakit. [Rujukan?]

Menurut Kisah tentang Heike, Kaisar Konoe, Kaisar Jepang, menjadi sakit setelah mengalami mimpi buruk yang mengerikan setiap malam, dan awan gelap muncul pada pukul dua pagi di atap istana di Kyoto selama musim panas 1153 . Cerita ini mengatakan bahwa Minamoto no samurai Yorimasa mengawasi keluar satu atap malam dan menembak panah ke awan, dari yang jatuh sebuah NUE mati. Yorimasu kemudian diduga tubuh tenggelam di Laut Jepang.

Dalam ekspansi lokal cerita, mayat itu mengapung NUE ke teluk tertentu, dan penduduk setempat, takut kutukan, menguburkannya. Sebuah bukit yang ada saat ini seharusnya kuburan ini.


Etimologi

NUE sebagai sebuah kata muncul di tertua sastra Jepang. Awal mengutip termasuk Kojiki (712) dan Wamyō Ruijushō (c. 934). Karena penggunaan Man’yōgana, ejaan historis diketahui telah nuye. Pada saat awal, walaupun, itu memiliki makna semantik yang berbeda. Ini disebut seekor burung yang dikenal sebagai White’s Thrush.

Pada abad ke-13, Heike Monogatari membuat referensi ke sebuah makhluk yang disebut NUE. Selain memiliki kepala monyet, tubuh tanuki, maka kaki macan, dan ekor ular, ia memiliki suara seorang Thrush White.

Sekitar 1435, Zeami Motokiyo menulis sebuah lagu berjudul Noh NUE berurusan dengan peristiwa yang dijelaskan dalam Heike.

Tsukimi

Posted: 12/06/2010 in Budaya

Tsukimi (月 见?) Atau Otsukimi, secara harfiah bulan-melihat, mengacu pada festival Jepang menghormati bulan musim gugur. Perayaan bulan purnama biasanya terjadi pada hari 15 bulan delapan kalender lunisolar tradisional Jepang; bulan waxing dirayakan pada hari ke-13 bulan kesembilan. Hari-hari ini biasanya jatuh pada bulan September dan Oktober kalender surya modern.

Kebiasaan Tsukimi berasal dari Festival Pertengahan Musim Gugur Cina. [Rujukan?] Tradisi ini sekarang begitu populer di Jepang bahwa beberapa orang mengulangi kegiatan untuk beberapa malam setelah munculnya bulan purnama pada bulan kedelapan lunisolar.

tradisi Tsukimi termasuk menampilkan dekorasi yang terbuat dari rumput di Amerika selatan Jepang (susuki) dan makan kue beras disebut Dango Tsukimi dalam rangka untuk merayakan keindahan bulan. Produksi musiman juga ditampilkan sebagai persembahan kepada bulan. Ubi ditawarkan untuk bulan purnama, sementara kacang atau chestnut ditawarkan ke bulan waxing pada bulan berikutnya. Nama-nama alternatif dari perayaan, Imomeigetsu (harfiah “kentang bulan panen”) dan Mamemeigetsu (“bulan panen kacang”) atau Kurimeigetsu (“bulan panen berangan”) berasal dari penawaran ini.

History

Tsukimi merujuk pada tradisi Jepang memegang pihak untuk melihat bulan panen. Kebiasaan itu diperkirakan berasal dari bangsawan Jepang selama periode Heian, yang akan berkumpul untuk membaca puisi di bawah bulan purnama bulan kedelapan kalender lunisolar, yang dikenal sebagai “Mid-Autumn Moon.” Sejak zaman kuno, orang Jepang telah dijelaskan lunisolar bulan kedelapan (sesuai dengan September pada kalender Gregorian kontemporer) sebagai waktu terbaik untuk melihat bulan, karena posisi relatif dari bumi, matahari, dan bulan menyebabkan bulan muncul terutama cerah. [rujukan?] Pada malam bulan purnama, adalah tradisional untuk berkumpul di tempat di mana bulan dapat dilihat dengan jelas, menghias adegan dengan rumput di Amerika selatan Jepang, dan untuk melayani kue beras putih (dikenal sebagai Tsukimi Dango) , talas, edamame, chestnut dan makanan musiman lainnya, ditambah sake sebagai kurban untuk bulan untuk berdoa untuk panen yang melimpah. Hidangan ini dikenal secara kolektif sebagai Tsukimi piring (月 见 料理, tsukimi ryouri?). Karena ubiquity ubi jalar atau talas di antara piring, tradisi dikenal sebagai Imomeigetsu (芋 名 月?) Atau “Kentang bulan panen” di beberapa bagian Jepang.

Dari 862 sampai 1683, kalender Jepang diatur sedemikian rupa sehingga bulan purnama jatuh pada 13 hari setiap bulannya. Pada 1684, Namun, kalender itu diubah sehingga bulan baru jatuh pada hari 1 setiap bulan, bulan purnama bergerak dua hari kemudian, pada hari ke-15 bulan. Sementara beberapa orang di Edo (Tokyo saat ini) mereka bergeser Tsukimi kegiatan untuk hari ke-15 bulan, yang lain terus mengamati festival pada hari 13. Selanjutnya, ada peringatan berbagai daerah di beberapa bagian Jepang pada hari 17 bulan, serta peringatan Buddha pada tanggal 23 atau 26 hari, yang semuanya digunakan sebagai dalih untuk sering pihak larut malam selama musim gugur di seluruh dengan periode Edo. Kebiasaan ini dibawa ke akhir yang cepat selama periode Meiji. [rujukan?]

Festival yang didedikasikan untuk bulan memiliki sejarah panjang di Jepang, dating sejauh periode Jomon. Selama periode Heian elemen dari Festival Pertengahan Musim Gugur Cina diperkenalkan ke Jepang. Anggota dari kelas bangsawan akan menggelar acara bulan-melihat kapal perahu untuk melihat pantulan bulan di permukaan air. Penulisan puisi tanka juga merupakan elemen dari bulan pertengahan musim gugur seperti melihat perayaan.

Ada istilah tertentu dalam bahasa Jepang untuk merujuk kepada kesempatan ketika bulan tidak terlihat pada malam pertengahan musim gugur tradisional, termasuk Mugetsu (无 月 harfiah: ada bulan-) dan Ugetsu (雨 月 hujan-bulan). Bahkan ketika bulan tidak terlihat, bagaimanapun, pihak Tsukimi diadakan.

Tsukimi related foods

Sudah tradisi untuk melayani Dango Tsukimi dan musiman menghasilkan korban selama Tsukimi, seperti dijelaskan di atas. Selain itu, ada beberapa hidangan lainnya yang terkait dengan Tsukimi.

mie rebus soba atau udon atasnya dengan nori dan telur mentah, kemudian ditutup dengan kaldu dikenal sebagai soba atau udon Tsukimi Tsukimi. Dalam Kitakyushu telur yaki udon disajikan di atas dikenal sebagai Tenmado, nama lain untuk Tsukimi dalam dialek lokal.

Di beberapa restoran cepat saji di Jepang Fall Menu khusus yang ditawarkan selama September dan Oktober yang menampilkan sandwich telur goreng yang dikenal sebagai burger Tsukimi.

Kitsune

Posted: 12/06/2010 in myht

Kitsune (狐 ) adalah sebutan untuk binatang rubah dalam bahasa Jepang. Dalam cerita rakyat Jepang, rubah sering ditampilkan dalam berbagai cerita sebagai makhluk cerdas dengan kemampuan sihirnya yang semakin sempurna sejalan dengan semakin bijak dan semakin tua rubah tersebut. Selain itu, rubah mampu berubah bentuk menjadi manusia. Dalam legenda, rubah sering diceritakan sebagai penjaga yang setia, teman, kekasih, atau istri, walaupun sering terdapat kisah rubah menipu manusia.

Di zaman Jepang kuno, rubah dan manusia hidup saling berdekatan sehingga legenda tentang kitsune muncul dari persahabatan antara manusia dan rubah. Dalam kepercayaan Shinto, kitsune disebut Inari yang bertugas sebagai pembawa pesan dari Kami. Semakin banyak ekor yang dimiliki kitsune (kitsune bisa memiliki sampai 9 ekor), maka semakin tua, semakin bijak, dan semakin kuat pula kitsune tersebut. Sebagian orang memberi persembahan untuk kitsune karena dianggap memiliki kekuatan gaib.

Asal-usul

Mitos kitsune sering menjadi bahan perdebatan, karena seluruhnya mungkin berasal dari sumber asing atau bisa juga merupakan konsep asli Jepang yang berkembang di abad ke-5 SM. Sebagian mitos tentang rubah di Jepang bisa ditelusur hingga ke cerita rakyat Tiongkok, Korea, atau India. Cerita paling tua tentang kitsune berasal dari Konjaku Monogatari yang berisi koleksi cerita Jepang, India, dan Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.Cerita rakyat Tiongkok mengisahkan makhluk huli jing (arwah rubah) yang mirip kitsune dan bisa memiliki ekor hingga sembilan. Di Korea, makhluk yang disebut kumiho (rubah berekor sembilan) merupakan makhluk mistik yang telah berumur lebih dari seribu tahun. Rubah di Tiongkok dan Korea digambarkan berbeda dengan rubah di Jepang. Tidak seperti di Jepang, rubah kumiho di Korea selalu digambarkan sebagai makhluk jahat. Walaupun demikian, ilmuwan seperti Ugo A. Casal berpendapat bahwa persamaan dalam cerita tentang rubah menunjukkan bahwa mitos kitsune berasal kitab India seperti Hitopadesha yang menyebar ke Tiongkok dan Korea, hingga akhirnya sampai ke Jepang.

Sebaliknya, ahli cerita rakyat Jepang, Nozaki Kiyoshi, berargumentasi bahwa kitsune sudah dianggap sebagai sahabat orang Jepang sejak abad ke-4, dan unsur-unsur yang diimpor dari Tiongkok dan Korea hanyalah sifat-sifat jelek kitsune. Nozaki menyatakan bahwa dalam naskah Nihon Ryakki asal abad ke-16, terdapat cerita tentang rubah dan manusia yang hidup berdampingan di zaman kuno Jepang, sehingga menurut Nozaki merupakan latar belakang timbulnya legenda asli Jepang tentang kitsune. Peneliti Inari bernama Karen Smyers berpendapat bahwa ide rubah sebagai penggoda manusia, serta hubungan mitos rubah dengan agama Buddha diperkenalkan ke dalam cerita rakyat Jepang melalui cerita serupa asal Tiongkok, namun Smyers mengatakan beberapa cerita berisi unsur-unsur cerita yang khas Jepang.

Etimologi

Menurut Nozaki, kata “kitsune” berasal dari onomatope. Kata “kitsune” berasal dari suara salakan rubah yang menurut pendengaran orang Jepang berbunyi “kitsu“, sedangkan akhiran “ne” digunakan untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Asal-usul kata kitsune juga digunakan Nozaki untuk menunjukkan bukti lebih lanjut bahwa kisah rubah baik hati dalam cerita rakyat Jepang adalah produk dalam negeri dan bukan kisah impor. Bunyi “kitsu” sebagai suara rubah menyalak sudah tidak dikenal orang di zaman sekarang. Dalam bahasa Jepang modern, suara rubah ditulis sebagai “kon kon” atau “gon gon“.

Asal-usul nama “kitsune” dikisahkan dalam dongeng tertua yang hingga sekarang masih sering diceritakan orang, tapi mengandung penjelasan etimologi yang sekarang dianggap tidak benar. Berbeda dengan sebagian besar dongeng yang menceritakan kitsune bisa berubah wujud menjadi wanita dan menikah dengan manusia, dongeng berikut ini tidak berakhir tragis:

Pria bernama Ono asal Mino (menurut legenda kuno Jepang tahun 545), menghabiskan musim demi musim berkhayal tentang wanita cantik yang sesuai dengan seleranya. Di suatu senja, Ono bertemu dengan wanita idealnya di padang rumput yang luas, dan mereka berdua akhirnya menikah. Bersamaan dengan kelahiran putra pertama mereka, anjing yang dipelihara Ono juga melahirkan. Anak anjing yang dilahirkan tumbuh sebagai anjing yang semakin hari semakin galak terhadap istri Ono. Permohonan sang istri untuk membunuh anjing galak tersebut ditolak Ono. Pada akhirnya di suatu hari, si anjing galak tersebut menyerang istri Ono dengan ganas. Istri Ono begitu ketakutan hingga berubah bentuk menjadi rubah, meloncat pagar dan kabur.
“Istriku, kau mungkin seekor rubah,” begitu Ono memanggil-manggil istrinya agar pulang, “tapi kau tetap ibu dari anakku dan aku cinta padamu. Pulanglah bila kau berkenan, aku selalu menunggumu.”
Sang istri akhirnya pulang ke rumah di setiap senja, dan tidur di pelukan Ono.

Istilah “kitsune” merupakan sebutan untuk siluman rubah yang pulang ke rumah suami sebagai wanita di senja hari, tapi pergi di pagi hari sebagai rubah. Dalam bahasa Jepang kuna, kata “kitsu-ne” berarti “datang dan tidur”, sedangkan kata “ki-tsune” berarti “selalu datang”.

Deskripsi

Kitsune dipercaya memiliki kecerdasan super, kekuatan sihir, dan panjang umur. Sebagai sejenis yōkai atau makhluk halus, “kitsune” sering dijelaskan sebagai “arwah rubah” tapi bukan hantu, dan bentuk fisiknya tidak berbeda dengan rubah biasa. Semua rubah yang panjang umur juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural.

Kitsune digolongkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok zenko yang terdiri dari rubah baik hati yang bersifat kedewaan (sering disebut rubah Inari), dan kelompok rubah padang rumput (yako) yang suka mempermainkan manusia dan bahkan bersifat jahat Tradisi berbagai daerah di Jepang juga masih mengelompokkan kitsune lebih jauh lagi Arwah rubah tak kasat mata yang disebut ninko misalnya, hanya bisa dilihat manusia yang sedang kerasukan ninko. Tradisi lain mengelompokkan kitsune ke dalam salah satu dari 13 jenis kitsune berdasarkan kemampuan supranatural yang dimiliki.

Secara fisik, kitsune dipercaya bisa memiliki hingga 9 ekor.Jumlah ekor yang semakin banyak biasanya menunjukkan rubah yang makin tua tapi semakin kuat. Beberapa cerita rakyat bahkan mengatakan ekor rubah hanya tumbuh kalau rubah tersebut sudah berumur 1.000 tahun

Dalam cerita rakyat, kitsune sering digambarkan berekor satu, lima, tujuh, atau sembilan.Ketika kitsune mendapatkan ekornya yang ke-9, bulu kitsune menjadi berwarna putih atau emas.Kitsune jenis ini disebut kyūbi no kitsune (kitsune berekor sembilan) dan memiliki kemampuan untuk mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di dunia. Dongeng lain menggambarkan mereka sebagai makhluk super bijak dan serba tahu.

Kitsune bisa berubah wujud menjadi manusia dan kemampuan ini baru didapat setelah kitsune mencapai usia tertentu (biasanya 100 tahun), walaupun beberapa cerita mengatakan 50 tahun.Siluman rubah harus meletakkan sejenis tanaman alang-alang yang tumbuh di dekat air, daun yang lebar, atau tengkorak di atas kepalanya sebagai syarat perubahan wujud. Rubah bisa berubah wujud menjadi wanita cantik, anak perempuan, atau lelaki tua. Perubahan wujud ini tidak dibatasi umur atau jenis kelamin rubah,  dan kitsune dapat menjadi kembaran dari sosok orang tertentu. Rubah sangat terkenal dengan kemampuan berubah wujud sebagai wanita cantik. Di abad pertengahan, orang Jepang percaya kalau ada wanita yang sedang berada sendirian di saat senja atau malam hari kemungkinan adalah seekor rubah.

Dalam beberapa cerita, kitsune memiliki kesulitan dalam menyembunyikan ekornya ketika sedang menyamar menjadi manusia. Kitsune sering ketahuan sedang mencari-cari ekornya, mungkin kalau rubah sedang mabuk atau kurang hati-hati. Kelemahan ini bisa digunakan untuk memastikan manusia yang sedang dilihat adalah siluman kitsune.

Berbagai variasi cerita mengisahkan kitsune sebagai makhluk yang masih mempertahankan ciri-ciri khas rubah, seperti tubuh yang bermantelkan bulu-bulu halus, bayangan siluman kitsune yang sama seperti bayangan rubah, atau siluman kitsune yang terlihat sebagai rubah ketika sedang berkaca.Istilah “kitsune-gao” (muka kitsune) digunakan di Jepang untuk menyebut wanita yang berwajah sempit, mata yang berdekatan, alis mata yang tipis, dan tulang pipi yang tinggi. Di zaman dulu, wanita bermuka kitsune-gao dianggap cantik, dan dipercaya sebagai rubah yang sedang berubah wujud sebagai wanita dalam beberapa dongeng.Kitsune takut dan sangat benci pada anjing, bahkan ketika sedang berubah wujud sebagai manusia. Sebagian kitsune bahkan gemetaran kalau melihat anjing, kembali berubah wujud menjadi rubah dan lari pontang-panting. Orang yang taat dan berbakti kabarnya gampang mengenali siluman rubah.

Salah satu cerita rakyat mengisahkan ketidaksempurnaan perubahan wujud seekor kitsune yang sedang menjadi manusia bernama Koan. Menurut cerita, Koan yang bijak dan memiliki kekuatan sihir sedang mau mandi di rumah salah seorang muridnya. Air mandi ternyata dimasak terlalu panas, dan kaki Koan melepuh ketika masuk ke bak mandi. “Koan yang sedang kesakitan, lari keluar dari kamar mandi telanjang. Orang-orang di rumah yang melihatnya terkejut. Sekujur badan Koan ternyata ditumbuhi bulu seperti mantel, berikut ekor dari seekor rubah. Koan lalu berubah wujud di hadapan murid-muridnya menjadi seekor rubah tua dan melarikan diri.”

Kemampuan supranatural lain yang dimiliki kitsune, antara lain: mulut dan ekor yang bisa mengeluarkan api atau petir (dikenal sebagai kitsune-bi yang secara harafiah berarti “api kitsune”), membuat manusia kerasukan, memberi pesan di dalam mimpi orang agar melakukan sesuatu, terbang, tak kasat mata, dan menciptakan ilusi yang begitu mendetil hingga tidak bisa dibedakan dari kenyataan. Pada beberapa cerita, kitsune bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar lagi, sampai bisa mengubah ruang dan waktu, membuat orang menjadi marah, atau berubah menjadi bentuk-bentuk yang fantastis, seperti pohon yang sangat tinggi atau sebagai bulan kedua di langit. Kitsune lainnya memiliki ciri-ciri yang mengingatkan orang pada vampir atau succubus dan memangsa roh manusia, biasanya melalui kontak seks.

Kitsunetsuki

Istilah kitsunetsuki (狐憑き atau 狐付き ?) secara harafiah berarti kerasukan kitsune. Korban biasanya wanita muda yang kemasukan kitsune dari bagian kuku jari atau melalui bagian buah dada.Pada beberapa kasus, wajah korban konon berubah sedemikian rupa hingga menyerupai rubah. Menurut tradisi di Jepang, kalau orang Jepang yang buta huruf sedang kerasukan kitsune, orang tersebut bisa melek huruf untuk sementara waktu.

Ahli cerita rakyat Lafcadio Hearn mengisahkan peristiwa kerasukan kitsune dalam volume pertama buku karyanya Glimpses of Unfamiliar Japan:

Aneh memang kegilaan orang yang dirasuki iblis rubah. Kadang-kadang mereka berlarian telanjang sambil berteriak-teriak di jalanan. Kadang-kadang mereka tidur-tiduran dengan mulut berbuih dan menyalak seperti rubah. Dan di bagian tubuh orang yang kerasukan, terlihat benjolan yang bergerak-gerak di bawah kulit yang kelihatannya memiliki nyawa sendiri. Bila ditusuk dengan jarum, benjolan tersebut langsung berpindah ke tempat lain. Benjolan tidak bisa dicengkeram, lepas bila ditekan dengan tangan yang kuat dan lolos dari jari-jari. Orang yang sedang kerasukan kabarnya bisa berbicara dan menulis bahasa yang mereka tidak kuasai sebelum kerasukan. Mereka hanya memakan makanan yang dipercaya disenangi rubah, seperti — tahu, aburagé, azukimeshi, dan lain lain. Mereka juga makan banyak sekali dan membela diri bahwa yang sedang makan itu bukan mereka, tapi arwah rubah.

Lafcadio Hearn menambahkan bahwa orang yang sudah terbebas dari kerasukan kitsune bakal tidak doyan lagi makan tahu aburage, azukimeshi, atau makanan lain yang digemari rubah.

Upacara mengusir setan dilakukan di kuil-kuil Inari untuk membujuk kitsune agar mau keluar dari tubuh orang yang sedang dimasukinya.Di zaman dulu, kalau usaha lemah lembut membujuk rubah tidak berhasil atau pendeta kebetulan tidak ada, korban kitsunetsuki dipukuli atau dibakar sampai terluka parah agar kitsune mau keluar. Kalau ada seorang anggota keluarga yang kerasukan, seluruh anggota keluarga korban diasingkan oleh masyarakat.

Di Jepang, kerasukan kitsune (kitsunetsuki) sudah dianggap sebagai penyakit sejak zaman Heian dan merupakan diagnosis umum untuk gejala penyakit mental hingga di awal abad ke-20. Kerasukan digunakan sebagai penjelasan kelakuan abnormal dari penderita. Di akhir abad ke-19, Dr. Shunichi Shimamura mencatat beberapa gejala penyakit yang disebabkan demam sering dianggap sebagai kitsunetsuki.

Dalam istilah kedokteran, kerasukan kitsune merupakan gejala penyakit mental yang khas dalam kebudayaan Jepang. Pasien percaya dirinya sedang dirasuki rubah.Gejala kerasukan kitsune di antaranya selalu ingin makan nasi atau kacang azuki, bengong, gelisah, dan menghindari tatapan mata orang lain. Penyakit kerasukan kitsune mirip tapi berbeda jauh dari lycanthropy (manusia serigala).

Hoshi no tama

Penggambaran kitsune dan korbannya sering mengikutsertakan benda putih yang disebut “bola bintang” (hoshi no tama) berbentuk bulat atau seperti bawang. Dalam dongeng, permata hoshi no tama berselimutkan api disebut kitsune-bi (api rubah). Di dalam sebagian cerita, hoshi no tama digambarkan sebagai mutiara atau permata yang memiliki kekuatan sihir. Ketika sedang tidak berubah wujud menjadi manusia atau merasuki manusia, kitsune menggigit hoshi no tama atau membawanya di bagian ekor.Permata merupakan simbol yang lazim ditemukan pada Inari, dan rubah suci Inari sangat jarang digambarkan tidak memiliki permata.

Sebagian orang percaya, sebagian kekuatan kitsune berada di dalam permata “bola bintang” ketika kitsune berubah wujud. Cerita lain menggambarkan mutiara sebagai perlambang nyawa kitsune. Kitsune akan mati jika terlalu lama terpisah dari mutiaranya. Orang yang berhasil mengambil bola kitsune, kabarnya bisa menukar bola tersebut dengan kekuatan sihir yang dimiliki kitsune. Dalam dongeng abad ke-12, seorang laki-laki berhasil mengambil bola kitsune dan mendapat imbalan ketika mengembalikannya:

“Kau terkutuk!” maki sang rubah. “Kembalikan bolaku!” Tapi laki-laki itu mengabaikan permohonan kitsune, hingga kitsune berkata sambil menangis, “Baiklah, kau boleh ambil bolaku, tapi bola tersebut bakal tidak ada gunanya buat kau, kalau kau tidak tahu cara menggunakannya. Bagiku, bola itu adalah segala-galanya. Aku peringatkan, kalau kau tidak mau mengembalikannya, kau bakalan jadi musuhku selamanya. Tapi bila kau mau mengembalikannya, aku akan terus mendampingimu bagaikan dewa pelindung.”

Nyawa laki-laki tersebut kemudian diselamatkan sang rubah yang membantunya melawan gerombolan bandit

Penggambaran

Pelayan Inari

Dalam kepercayaan Shinto, kitsune sering dikaitkan dengan Inari. Hubungan antara Inari dan kitsune makin memperkuat kedudukan kitsune dalam dunia supranatural. Kitsune mulanya merupakan pembawa pesan yang bertugas bagi dewa Inari, tapi garis pemisah antara Inari dan kitsune makin kabur sehingga Inari digambarkan sebagai seekor rubah. Kuil Shinto yang memuliakan Inari disebut kuil Inari, tempat orang memberikan sesajen[10] Kitsune kabarnya suka sekali makan potongan tahu goreng aburage. Kitsune makan aburage yang biasa diletakkan di atas masakan mi Jepang yang disebut Kitsune Udon dan Kitsune Soba. Sejenis sushi yang dimasukkan di dalam kantong dari aburage disebut Inari-zushi.[44] Ahli cerita rakyat sering berspekulasi tentang keberadaan kepercayaan rubah yang lain, karena rubah sejak dulu sudah dipuja sebagai Kami.

Kitsune di kuil Inari berwarna putih yang merupakan warna pertanda baik. Mereka dipercaya memiliki kekuatan untuk menangkal iblis, dan kadang-kadang bertugas sebagai pelindung arwah. Selain berjaga-jaga di kuil Inari, kitsune diminta agar melindungi penduduk setempat dari rubah liar (”nogitsune) yang suka membuat keonaran. Sama seperti kitsune berwarna putih, kitsune berwarna hitam dan kitsune berekor sembilan juga dianggap pertanda baik.

Menurut kepercayaan yang berasal dari feng shui, rubah memiliki kekuatan luar biasa melawan iblis, sehingga patung kitsune konon bisa mengusir hawa kimon atau energi yang mengalir arah timur laut. Kuil Inari seperti kuil Fushimi Inari di Kyoto sering memiliki koleksi patung kitsune yang banyak sekali.

Penipu

Kitsune sering digambarkan sebagai penipu dengan motif yang bervariasi, mulai dari sekadar ingin berbuat nakal hingga merugikan manusia. Kitsune dikisahkan senang mempermainkan samurai yang sombong, saudagar rakus, dan rakyat biasa yang suka pamer. Kitsune yang lebih kejam konon suka mengerjai pedagang miskin, petani, dan biksu yang saleh. Korban kitsune biasa laki-laki, sedangkan perempuan hanya bisa kerasukan kitsune.Kitsune misalnya, dipercaya menggunakan bola api kitsune-bi sewaktu membantu pelancong yang tersesat.Taktik lain kitsune adalah mengelabui korban dengan ilusi dan tipuan mata.Kitsune memperdaya manusia dengan maksud merayu, mencuri makanan, memberi pelajaran untuk orang yang sombong, atau membalas dendam sesudah dicederai.

Permainan tradisional kitsune-ken merupakan salah satu jenis permainan Batu-Gunting-Kertas dengan tiga bentuk telapak tangan dan jari-jari yang melambangkan rubah, pemburu, dan kepala kampung. Pemburu kalah dari kepala kampung, dan sebaliknya pemburu menang atas rubah, tapi rubah bisa memperdaya kepala kampung.

Kitsune digambarkan suka membuat onar ditambah reputasi suka membalas dendam. Akibatnya, orang berusaha mengungkap motif tersembunyi di balik tindakan rubah. Toyotomi Hideyoshi pernah menulis surat kepada Inari. Di dalam suratnya, Hideyoshi melaporkan keonaran yang dibuat salah seekor rubah terhadap para pelayan, dan memohon agar rubah-rubah diselidiki dan ditindaklanjuti. Kalau insiden ini tidak ditanggapi, Hideyoshi mengancam akan memburu semua rubah yang ada.

Kitsune dikenal suka menepati janji dan berusaha keras untuk bisa membalas budi. Kitsune kadang-kadang membuat onar seperti yang dikisahkan sebuah cerita asal abad ke-12. Ancaman pemilik rumah untuk membinasakan semua rubah berhasil meyakinkan kawanan rubah untuk mengubah kelakuan. Kepala keluarga kawanan rubah hadir dalam mimpi pemilik rumah untuk mohon pengampunan dari pemilik rumah, sekaligus berjanji untuk berkelakuan baik dan membalas budi dengan menjadi pelindung keluarga.

Sebagian kitsune menggunakan sihir untuk menguntungkan manusia yang dianggap teman atau majikan. Sebagai golongan Yōkai, ia tidak memiliki tata krama seperti manusia. Kitsune bisa mencuri uang dari rumah tetangga untuk diberikan kepada majikan, atau mencuri uang majikan sendiri. Di zaman dulu, pemilik rumah yang memelihara kitsune selalu dicurigai tetangga.[52]

Dalam cerita rakyat sering dikisahkan tentang pembayaran atas barang atau jasa yang dilakukan kitsune. Kitsune bisa menipu penglihatan orang yang menerima pembayaran dari kitsune dengan sihir. Emas, uang, atau batu permata yang diterima dari kitsune sebenarnya hanya kertas bekas, daun-daunan, cabang dan ranting, batu, atau benda-benda sejenis.Hadiah yang benar-benar diberikan kitsune kepada manusia biasanya berupa benda-benda yang tak berwujud, seperti perlindungan, pengetahuan, dan umur panjang.

Istri dan kekasih

Kitsune sering digambarkan sebagai wanita penggoda dalam cerita yang melibatkan laki-laki muda. Walaupun kitsune berperan sebagai wanita penggoda, cerita biasanya bersifat romantis.Dalam cerita, laki-laki sering menikahi wanita cantik yang merahasiakan bahwa dirinya adalah seekor rubah. Ketika rahasia terbongkar, sang istri terpaksa meninggalkan suami. Pada sebagian cerita, laki-laki yang menikahi siluman rubah bagaikan bangun dari mimpi, kebingungan, berada jauh dari rumah, dan harus kembali ke rumah yang ditinggalinya dulu dengan membawa malu.

Beberapa cerita mengisahkan siluman rubah yang dijadikan istri melahirkan anak manusia. Anak-anak yang dilahirkan memiliki kemampuan fisik dan bakat supranatural melebihi orang biasa. Bakat ini juga diturunkan ke anak cucu bila manusia keturunan rubah kembali melahirkan anak. Seorang ahli kosmologi (onmyōji) Jepang bernama Abe no Seimei dikatakan memiliki kekuatan sihir luar biasa karena keturunan kitsune.

Kitsune sering dikisahkan menikahi sesama kitsune. Dalam bahasa Jepang, hujan lebat yang turun tiba-tiba ketika langit sedang cerah (hujan panas) disebut kitsune no yomeiri atau “pernikahan kitsune”. Istilah tersebut berasal dari legenda yang mengisahkan kondisi cuaca pada saat upacara pernikahan kitsune. Peristiwa pernikahan kitsune dianggap sebagai pertanda baik, tapi kitsune akan marah bila hadir tamu yang tidak diundang

Cerita fiksi

Kitsune tampil dalam berbagai seni budaya Jepang. Sandiwara tradisional Jepang seperti noh, kyogen, bunraku, and kabuki sering mengisahkan legenda kitsune. Begitu pula halnya dengan budaya kontemporer seperti manga dan permainan video. Pengarang fiksi dari Barat juga mulai menulis cerita yang diilhami legenda kitsune. Penggambaran kitsune menurut orang Barat biasanya tidak berbeda jauh dengan cerita asli kitsune.

Ibu Abe no Seimei yang bernama Kuzunoha merupakan tokoh kitsune yang dikenal luas dalam seni teater tradisional Jepang. Kuzunoha ditampilkan dalam cerita sandiwara bunraku dan kabuki Ashiya Dōman Ōuchi Kagami (Kaca di Ashiya Dōman and Ōuchi) yang terdiri dari lima bagian. Bagian ke-4 yang berjudul Kuzunoha atau Rubah dari Hutan Shinoda sering dipentaskan secara terpisah. Bagian ini menceritakan terbongkarnya rahasia Kuzunoha sebagai siluman rubah dan adegan saat harus meninggalkan suami dan anaknya.

Tamamo-no-Mae adalah tokoh fiksi yang menjadi tema drama noh berjudul Sesshoseki (Batu Kematian), dan sandiwara kabuki/kyogen berjudul Tamamonomae (Penyihir Rubah yang Cantik). Tamamo-no-Mae berbuat banyak kejahatan di India, Tiongkok, dan Jepang, tapi rahasianya terbongkar dan tewas. Arwahnya menjadi sesshoseki (batu kematian). Arwah Tamamo-no-Mae akhirnya dibebaskan biksu bernama Gennō.

Genkurō adalah seekor kitsune dikenal berbakti kepada orangtua. Dalam cerita bunraku dan kabuki berjudul Yoshitsune Sembon Zakura (Yoshitsune dan Seribu Pohon Sakura), kekasih Yoshitsune yang bernama Putri Shizuka memiliki tsuzumi (gendang kecil) yang dibuat dari kulit rubah orangtua Genkurō. Dalam penyamarannya sebagai Satō Tadanobu, Genkurō berhasil menyelamatkan Putri Shizuka dari Minamoto no Yoritomo. Namun identitas Genkurō sebagai siluman rubah terbongkar karena Satō Tadanobu yang asli muncul. Genkurō mengatakan suara kedua orangtuanya terdengar setiap kali gendang tsuzumi yang dimiliki Shizuka dipukul. Yoshitsune dan Shizuka akhirnya memberikan tsuzumi tersebut kepada Genkurō. Sebagai imbalannya, Genkurō memberi perlindungan sihir untuk Yoshitsune.